Senin, 08 Oktober 2012

PENGARUH SUHU TERHADAP PRODUKSI DAN TINGKAT KEMATIAN (Mortalitas) BROILER DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA (Studi Kasus Di Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan Kecamatan Guguk)


PENGARUH SUHU TERHADAP PRODUKSI DAN TINGKAT KEMATIAN (Mortalitas) BROILER DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
(Studi Kasus Di Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan Kecamatan Guguk)


PROPOSAL TUGAS AKHIR

YOGI SEPTRIALDO, A.Md
1111 3360 11





UNAND~C




PROGRAM STUDI MANAJEMEN PRODUKSI PERTANIAN
PPGT KOLABORATIF
JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
POLITEKNIK PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS
2012

BAB I.  PENDAHULUAN
I.1.  Latar Belakang
            Sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan. Sub sektor peternakan perlu dikembangkan karena sub sektor ini dapat memberikan kontribusi besar untuk pertanian Indonesia.  Kontribusi sub sektor peternakan terhadap pertanian Indonesia ditentukan oleh seberapa besar kemampuan pelaku di sub sektor ini untuk mengembangkan usaha peternakan tersebut agar mempunyai prospek yang baik di pasaran. Terkait dengan hal tersebut, maka sub sektor peternakan yang akan dikembangkan di masa yang akan datang diharapkan mampu menghasilkan produk-produk yang dapat bersaing dipasaran.  Sub sektor peternakan adalah penghasil utama komoditi daging, susu, dan telur. Tiga komoditi ini menjadi andalan dan tolak ukur perkembangan peternakan khususnya di Indonesia.
Sejak dahulu hewan ternak adalah sahabat manusia, kedekatan hubungan manusia dengan hewan  ternak  tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang. Dari hewan-hewan ternak itulah manusia dapat bertahan hidup, sementara manusia berjasa mengembang biakkan hewan ternak.  Dari hewan ternak manusia dapat mengambil aneka manfaat berupa daging, telur, susu, kulit dll, hal tersebut sangat penting bagi manusia untuk bertahan hidup, daging bermanfaat sebagai salah satu makanan bergizi yang mengandung protein hewani yang bermanfaat bagi metabolisme tubuh, selain itu lemaknya juga sangat bermanfaat.
Saat ini budidaya ayam broiler semakin digemari karena proses pembudidayaan yang relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan sapi ataupun hewan lain yang juga dibudidayakan untuk diambil dagingnya . Salah satu sentra pembudidayaan ayam broiler di Indonesia adalah Kabupaten Lima Puluh Kota. Peternakan ayam broiler mempunyai prospek yang sangat baik untuk dikembangkan, baik dalam skala peternakan besar maupun dalam skalapeternakan kecil atau peternakan rakyat.
Sejak tahun 70-an ayam ras pedaging atau banyak dikenal sebagai ayam broiler mulai diternakkan secara intensif di Indonesia.  Ayam unggulan hasil persilangan berbagai bangsa ayam ini mendapat respon pasar yang luar biasa, tingkat konsumsinya terus meningkat dari tahun ketahun.  Kondisi ini memunculkan peternak-peternak broiler baru di berbagai daerah di Indonesia, sekarang ini peternakan broiler hampir ada di setiap provinsi di dalam negeri.
Mengimbangi tingginya permintaan, berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan kualitas ayam broiler.  Dilihat dari tahun ketahun terus terjadi peningkatan peforma broiler, artinya waktu yang dibutuhkan broiler untuk meningkatkan bobotnya semakin singkat (Christopher, 2011).
Pengembangan usaha ternak ayam broiler akan berhasil apabila peternak mampu mengelola usaha ternaknya dengan baik. Pengelolaan usaha ternak ayam broiler harus ditunjang dengan kemampuan manajemen yang baik, mulai dari manajemen produksi, keuangan, sumberdaya manusia, dan manajemen pemasaran. Peternak sebagai pengambil keputusan bisnis harus memiliki kompetensi yang baik untuk mengelola seluruh perusahaan, yang akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan usahanya. Pengelolaan usaha ternak khususnya ayam broiler selalu dihadapkan pada risiko, karena itu pelaku bisnis ini harus disertai dengan pengetahuan dan kemampuan dalam meminimalkan risiko, sehingga usaha ini dapat memberikan keuntungan sesuai yang diharapkan peternak.  Manajemen yang diterapkan oleh peternak haruslah efektif agar tujuan peternakan dapat tercapai.
Beberapa faktor yang menyebabkan usaha peternakan ayam broiler di Kabupaten Lima Puluh Kota menghadapi tingkat risiko produksi yang cukup tinggi antara lain sumberdaya manusia, faktor alam (suhu), input produksi, dan prosedur pelaksanaan kegiatan operasional. Akumulasi dari beberapa faktor penyebab resiko tersebut terlihat dari berfluktuasinya tingkat mortalitas ayam pada peternakan tersebut.
Prestasi ayam broiler dapat dicapai berdasarkan dua faktor, yaitu: faktor genetik dan faktor lingkungan.  Faktor genetik merupakan bahan dasar ternak hasil dari keturunan yang baik sedangkan lingkungan menurut Pringgoseputro dan Srigandono (1990), berarti semua faktor eksternal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan, perkandangan dan reproduksi organisme. Suhu adalah salah satu faktor lingkungan dimana menurut Brotowijoyo (1987) merupakan kondisi lingkungan yang tersusun dari temperatur, presipitasi, tekanan barometer, kelembaban, arah dan kecepatan angin, awan yang menutupi, dan sebagainya pada waktu dan tempat tertentu.
Pertambahan bobot badan ayam dan mortalitas lebih berkorelasi dengan suhu. Semakin tinggi suhu udara maka pertambahan bobot ayam akan semakin rendah. Hal ini disebabkan suhu udara yang tinggi dapat mengganggu proses metabolisme di dalam tubuh broiler tersebut, yang menyebabkan kegagalan pengaturan suhu tubuhnya, maka tubuh broiler akan menjadi panas.  Akibat meningkatnya suhu lingkungan, nafsu makan menurun dan konversi pakan kurang baik, sehingga konsumsi pakan rendah.  Akibat rendahnya makanan yang masuk (intake), maka kandungan zat protein yang dapat dimanfaatkanpun akan semakin rendah, sehingga menyebabkan laju pertumbuhan terhambat dan bisa menyebabkan kematian (Murtidjo, 1987).
Meningkatnya suhu merupakan beban biologis bagi broiler, karena broiler tidak memiliki kelenjar keringat, akibatnya timbunan panas di dalam tubuh hanya bisa dikurangi dengan suatu penguapan lewat pernapasan.  Hal ini bisa diamati pada tingkah laku broiler tersebut.  Broiler yang tubuhnya terlalu panas, secara biologis akan menetralkan suhu tubuh dengan jalan membuka mulutnya terus menerus.  Efek panas dapat dilihat dari keadaan mangap-mangap pada broiler dan selalu ingin minum.  Pengaruh lanjutannya adalah lantai litter yang selalu basah dan suasana lembab di dalam kandang yang mengakibatkan tingginya kadar amoniak udara dalam kandang, dan juga merupakan media tumbuhnya bibit penyakit ( Rasyaf, 2007).  Pengaruh suhu yang tidak baik pada ternak akan mengakibatkan perubahan status fisiologis, yang disebut stress atau cekaman.  
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengambil judul penelitianPengaruh Suhu Terhadap Produksi Dan Mortalitas Broiler Di Kabupaten Lima Puluh Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan Kecamatan Guguk)”

I.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan data produksi peternakan, resiko produksi merupakan risiko yang berpengaruh signifikan bagi peternak. Akan tetapi penanganan untuk risiko produksi masih jauh dari sempurna, hal ini terlihat dari fluktuasi produktifitas yang cukup signifikan.  Perubahan suhu yang tidak menentu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ternak ayam broiler. Saat musim hujan, suhu udara di dalam kandang menjadi dingin, dan udara dalam kandang menjadi lembab. Sebaliknya dimusim kemarau, suhu udara di dalam kandang menjadi panas, kadar karbondioksida meningkat dan udara dalam kandang terasa lebih pengap. Kondisi seperti ini sulit dihindari dan mengakibatkan stress yang bisa mencapai kematian dengan tingkat mortilitas yang cukup tinggi. Pada dasarnya suhu potensial untuk pemeliharaan ayam broiler adalah sebesar 180-210C (Rasyaf 2007).
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah–masalah sebagai berikut :
1.                  Berapa besar pengaruh suhu terhadap produksi dan tingkat kematian (mortalitas) broiler di Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan kecamatan Guguk?
2.                  Bagaimana alternatif strategi yang diterapkan untuk mengatasi perubahan suhu yang dihadapi peternak di Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan kecamatan Guguk?

I.3.  Tujuan Penelitian
            Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini bertujuan untuk:
1.                  Mengidentifikasi besarnya pengaruh suhu terhadap produksi dan tingkat kematian (mortalitas) broiler di Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan kecamatan Guguk.
2.                  Menganalisis alternatif strategi yang diterapkan untuk mengatasi perubahan suhu yang dihadapi peternak di Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan kecamatan Guguk.
I.4.  Manfaat Penelitian
1.  Bagi Peternak
Dari penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran kepada peternak sebagai bahan pertimbangan dalam mengevaluasi jalannya usaha atau mengembangkan usaha peternakan.
2.  Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang diperoleh dibangku perkuliahan dan salah satu syarat kelulusan jenjang pendidikan Diploma IV di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.
3.  Bagi Peneliti Selanjutnya
            Sebagai salah satu pedoman untuk memperluas informasi dan referensi dalam melakukan penelitian.

I.5.  Hipotesis Penelitian
Perbedaan suhu berpengaruh terhadap produksi dan tingkat kematian (mortalitas) ayam broiler dan perubahan suhu tidak berpengaruh terhadap produksi dan mortalitas ayam broiler.




BAB II.  TINJAUAN PUSTAKA

II. 1.  Karakteristik Broiler
Broiler adalah ayam pedaging yang dipelihara sampai umur delapan minggu. Broiler yang baik adalah yang pertumbuhannya cepat, warna bulu putih mempunyai ukuran dan korfirmasi yang seragam, dengan ciri-ciri kaki pendek dan badan gemuk. Aktifitas sehari-hari hanya makan dan minum serta istirahat, malas bergerak sehingga tubuh broiler ini cepat besar sesuai dengan pertumbuhannya,  (Rasyaf, 2002).
Secara genetis broiler sengaja diciptakan dengan sedemikian rupa, sehingga dalam waktu yang relatif singkat dapat segera dimanfaatkan hasilnya.  Bibit broiler yang baik mempunyai ciri: sehat dan aktif  bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih.  Broiler yang baik adalah yang pertumbuhannya cepat, warna bulu putih mempunyai ukuran dan konfirmasi yang seragam, dengan ciri kaki pendek dan badan gemuk. Aktifitas sehari-hari hanya makan dan minum, serta istirahat sehingga tubuh broiler cepat besar sesuai dengan pertumbuhannya ( Rasyaf, 2003).
Salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada keberhasilan pemeliharaan broiler adalah faktor lingkungan. Lingkungan pemeliharaan yang nyaman akan mengurangi level stress pada broiler. Daya tahan tubuh broiler akan lebih baik dalam lingkungan yang tidak berdebu, cukup oksigen, suhu yang seimbang dan tidak terlalu padat.
Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan pemeliharaan broiler adalah pakan.  Pakan merupakan 60-70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (Nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem adlibitum (selalu tersedia/tidak dibatasi). Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Penyakit juga sangat menentukan dalam keberhasilan pemeliharaan broiler. Broiler yang terserang penyakit akan memicu mortalitas yang tinggi sehingga menyebabkan kerugian usaha. Vaksinasi perlu dilakukan untuk menanggulangi dan mencegah penyakit menular seperti ND, IB, dan Gumboro. Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami.

II.2.  Suhu
            Ternak dalam kehidupannya secara fisik dipengaruhi oleh lingkungannya, baik lingkungan fisik, lingkungan biologi dan lingkungan sosial.  Lingkungan fisik yang secara langsung diterima oleh ternak antara lain, dari tanah, temperatur, sinar matahari, kelembaban dan juga angin.  Untuk mempertahankan diri dari lingkungan yang mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung, maka ternak akan memproduksi panas.  Panas tersebut akan menggantikan panas yang hilang akibat penyesuaian suhu tubuh ternak.
Ternak akan melepaskan panas untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya melalui radiasi, konveksi, konduksi, evaporasi dan metabolisme. Perpindahan energy yang dikeluarkan ternak pada lingkungannya sesuai dengan panas yang dihasilkan (Hafez. By. E.S.E, 1968).
            Hort dan Mathur (1989) kendala umum yang dihadapi oleh ternak khususnya di daerah tropis yaitu stres panas, yang mengakibatkan pengaruh secara langsung dan tidak langsung. Pengaruh secara langsung reaksinya melalui stres terhadap mekanisme pengaturan suhu tubuh, sedang secara tidak langsung terhadap kualitas pakan pada ayam kemudian menyusul reaksi tubuh terhadap kemampuan menjaga fungsi-fungsi normal tubuh terutama dalam hal produksi maupun penampilan produksi (secara individu), yang dikenal dengan istilah adaptasi produktif (Productive Adaptability).  Ayam broiler termasuk ternak yang peka terhadap suhu lingkungan, menurut Winter dan Fungk (1966) suhu 10 °C – 32 °C masih ditolerir oleh ayam, sedangkan suhu optimal untuk pemeliharaan broiler menurut Prince et al (1961), Reece dan Deaton (1981) dan Rozany (1982) yang dikutip dari Bona Pinto (2011) adalah diantara 15 °C – 27 °C.  Berdasarkan Micro Climate di Indonesia, suhu rata-rata daerah dataran rendah berkisar antara 23 °C – 35 °C dan 20 °C – 30 °C untuk daerah dataran tinggi (Nasroedin, 1985).
            Broiler dapat tumbuh pada suhu 16-260C, dengan kelembaban sedang (Rh 60-70%). Suhu optimal untuk pertumbuhan broiler adalah 210C. Kabupaten Limapuluh Kota beriklim tropis, keadaan suhu lingkungan sepanjang hari tidak begitu berbeda, yaitu berkisar pada suhu 210-290C . Perbedaan antara siang dan malam hari berkisar antara 3-50C (Atamou, 2008).

II.3.  Usaha Peternakan Broiler
            Peternakan broiler akhir-akhir ini berkembang dengan pesatnya, karena didukung oleh faktor yang sangat menjanjikan.  Banyak pelaku usaha dalam menjalankan usaha peternakan  broiler memakai sistem mandiri maupun plasma. Beberapa alasan peternak untuk terus menjalankan usaha ini antara lain, jumlah permintaan daging ayam yang terus meningkat, perputaran modal yang cepat, akses mendapatkan input produksi yang mudah dengan skala kecil maupun besar merupakan daya tarik tersendiri bagi para pelaku usaha untuk menekuni usaha peternakan broiler ini.
Menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 472/Kpts/TN.330/6/96, usaha peternakan terbagi menjadi tiga kategori, yaitu peternakan rakyat, pengusaha kecil peternakan, dan pengusaha peternakan. Peternakan rakyat adalah peternak yang mengusahakan budidaya ayam dengan jumlah populasi maksimal 15.000 ekor per periode. Pengusaha kecil peternakan adalah peternak yang membudidayakan ayam dengan jumlah populasi maksimal 65.000 ekor per periode. Sedangkan untuk pengusaha peternakan adalah peternak yang membudidayakan ayam dengan jumlah populasi melebihi 65.000 ekor per periode. Khusus untuk Pengusaha Peternakan, dapat menerima bimbingan dan pengawasan dari pemerintah. Hal tersebut ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 1977 tentang usaha peternakan. Peraturan pemerintah ini menjelaskan bahwa Menteri bertanggung jawab dalam bidang peternakan atau pejabat yang ditunjuk olehnya berkewajiban melakukan bimbingan dan pengawasan atas pelaksanaan perusahaan-perusahaan peternakan.

BAB III.  METODE PENELITIAN
3.1.  Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada peternakan broiler di Kabupaten Lima Puluh Kota (Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan Kecamatan Guguk). Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan dengan sengaja  untuk mengetahui seberapa besar pengaruh suhu terhadap produksi dan mortlitas broiler dan untuk menganalisis kecocokan daerah yang berbeda suhu untuk pemeliharaan broiler.  Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2012.
3.2.  Cara Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi kasus (case study), yaitunya dengan survey dan pengamatan langsung ke lapangan. Penelitian studi kasus adalah penelitian yang mendalam mengenai kasus tertentu yang hasilnya merupakan gambaran lengkap dan terorganisir mengenai kasus tersebut.  Data primer di diperoleh dari pihak perusahaan mitra dan peternak mitra sebagai responden dengan teknik wawancara langsung berdasarkan daftar pertanyaan yang sudah disediakan (quesioner). Sedangkan data sekunder dihimpun dari berbagai lembaga yang terkait dengan penelitian ini.



3.3.  Tahapan Pelaksanaan Penelitian
Penentuan Topik Penelitian
 
Pelaksanan penelitian ini melalui beberapa tahap:












Perencanaan Penelitian
 















Pembuatan Laporan Penelitian
 
 















Gambar 1.  Bagan alir metode penelitian






3.4.  Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui studi lapangan (data primer) dan studi keperpustakaan (data sekunder).
           3.4.1.  Data Primer
Pengumpulan data primer melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan (quisioner) yang berhubungan dengan suhu, manajemen pemeliharaan, produksi, tingkat kematian (mortalitas), keadaan kandang, usia kandang dan lain-lain.

3.4.2.  Data Sekunder
Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Limapuluh Kota, buku-buku dan jurnal penelitian sebelumnya, yang berhubungan dengan data populasi broiler di Kabupaten Lima Puluh Kota (Kecamatan Situjuh Limo Nagari dan Kecamatan Guguk).
Pengambilan jumlah peternak didaerah penelitian ditentukan secara proposional dan peternak contoh diambil secara acak sederhana dari populasi yang ada (Sugiyono, 2000).
               Ni
 ni =                      n0
              ∑ Ni

Keterangan :    ni = jumlah sampel dari masing-masing unit
n0 =  jumlah sampel/responden dari seluruh unit
Ni = jumlah populasi dari masing-masing unit
            ∑ Ni = jumlah populasi dari seluruh unit
3.5.  Teknik Analisis Dan Metode Pengujian
Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan diolah dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian.            Manfaat analisis data antara lain: untuk mengetahui seberapa besar pengaruh suhu terhadap produksi dan mortalitas broiler serta untuk mengetahui kecocokan suatu daerah dengan yang berbeda suhu terhadap pengembangan peternakan broiler.  Maka digunakanlah uji signifikasi t Student dengan formulasi sebagai berikut (Sugiyono, 2000 dalam Ilham 2012):        
                                             
           t hitung =                                                            
                               
             
      Keterangan: 
          t  = nilai  t hitung
           =  tingkat keberhasilan sambung samping rata-rata sampel
          =  besarnya sampel
           =  standart deviasi



DAFTAR PUSTAKA

AAK. 2005. Beternak Ayam Pedaging. Kanisus. Jakarta
Anggraini PD. 2003. Analisis Risiko Usaha Peternakan Sapi Perah Studi Kasus di Kelurahan Kebun Pedes, Bogor. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Atamou, Olyvianus Krismanto. 2008. Apakah Suhu Kandang Pemeliharaan Berpengaruh Langsung Terhadap Produksi Ayam Broiler. http://www.yahooanswer.com. 24 Juni 2008
Fadillah, et al. 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka
Brotowijoyo, 1987. Parasit Parasitisme. Penerbit PT Penebar Swadaya. Jakarta. 
Hafez. By. E.S.E, 1968. Adaptation of Domestic Animals. Lea and Febiger. Philadelphia.
Horst P. dan Mathur P.K. 1989. Position of local fowl for tropically oriented breeding activities. In genotip x environtment interaction in poultry production. Edit, P. Merat, Jony. En-Josas (France) May 9 – 11. P: 159 – 174.
Murtidjo.  1987.  Pedoman Beternak Ayam Broiler.  Penerbit Kanisius.  Yogyakarta
Nasroedin, 1985. Poultry Hausing in Tropical Climate / Indonesia.
Pringgosaputro S. dan Srigandono B., 1990. Dalam Terjemahan Ekologi Umum. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
 Rasyaf,  M.  2002. Manajemen Peternakan Ayam Broiler.  PT Penebar Swadaya.  Depok
Rasyaf,  M. 2003.  XXIV.  Beternak Ayam Pedaging.  PT Penebar Swadaya.  Depok
Rasyaf, M. 2007. Beternak Ayam Pedaging. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sihombing. DTH, dkk, 2000. Lingkungan Ternak. Universitas Terbuka. Jakarta.



LAMPIRAN
KUESIONER PENELITIAN
PENGARUH PERBEDAAN SUHU TERHADAP PRODUKSI DAN TINGKAT KEMATIAN (Mortalitas) BROILER DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
(Studi Kasus di Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan Kecamatan Guguk)


Keterangan:
Kuesioner ini ditujukan untuk penelitian tugas akhir. Mohon kepada Ibu/Bapak agar sudi kiranya memberikan jawaban dengan jujur dan benar. Atas bantuan Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.                                                                                                                                 Hormat saya,

                                                                                    Yogi Septrialdo, A.Md
 
 





           


Bagian I

No Kuesioner                         :                                    
Nama peternak                       :                                    
Pendidikan terakhir                :                                    
Umur peternak                       :                                    
Alamat                                    :                                    
Pekerjaan                                :                                    
Jumlah broiler yang dipelihara:
                                               Doc.............................. :                      ekor
                                               Starter ......................... :                      ekor
                                               Finisher........................ :                      ekor

Suhu lingkungan                    :                                     0C
Bentuk kandang                     :                                    

Suhu kandang (rata-rata)        :
·         DOC (0-1 minggu)     :                                     0C
·         Starter (1-2 minggu)   :                                     0C
·         Finsher (2-4 minggu)  :                                     0C
Mulai berusaha                       : Tahun ........................
Lama Pemeliharaan                :                                     hari
Jumlah Produksi                     : ………………….kg/panen/periode
Jumlah kematian                     :                                     ekor/panen/periode
Hal apa yang diterapkan dalam penanggulangan perubahan suhu kandang, seperti:
Musim hujan                           : 1.................................
                                                  2.................................
                                                  3.................................
                                                  4.................................
                                                  5.................................
Musim kemarau                      : 1.................................
                                                  2.................................
                                                  3.................................
                                                  4.................................
                                                  5.................................






Bagian II
Pernyataan pada poin II (pernyataan yang berkaitan dengan faktor internal dan eksternal yang merupakan tolok ukur untuk menentukan besar pengaruh perbedaan suhu terhadap produksi dan mortalitas broiler). Oleh karena itu bapak/ibuk dimohon untuk memberikan tanda cek (Ö) pada salah satu kolom jawaban yang sesuai dengan pilihan Anda).

Pernyataan
Sangat setuju
Setuju
Netral
Tidak setuju
Sangat tidak setuju
Saya mempunyai kandang panggung dan terbuka (open house) karena merupakan persyaratan dari perusahaan mitra





Saya membangun kandang panggung dan terbuka (open house) agar sirkulasi udara dibawah kandang tetap lancar





Saya membangun kandang panggung dan terbuka (open house) karena biayanya murah





Saya membangun kandang panggung dan terbuka (open house) bebas dari ancaman binatang buas





Saya membangun kandang panggung dan terbuka (open house) agar lantai kandang bisa tetap kering





kandang panggung dan terbuka (open house)tidak membutuhkan kipas jika ayam kepanasan





kandang panggung dan terbuka (open house) lebih mudah dalam pengaturan suhu kandang





Suhu kandang merupakan hal utama yang mempengaruhi produksi dan tingkat kematian broiler





Kualitas bibit merupakan hal utama yang menentukan hasil produksi dan tingkat kematian broiler





Pernyataan
Sangat setuju
Setuju
Netral
Tidak setuju
Sangat tidak setuju
Manajemen pemeliharaan merupakan hal utama yang menetukan hasil produksi dan tingkat kematian broiler





Bangunan kandang lebih berpengaruh terhadap produksi dan tingkat kematian broiler





Jika ayam kepanasan saya menggunakan kipas untuk penanggulangannya





Jika ayam kedinginan saya selalu menutup tirai kandang





Tingkat kematian ayam lebih tinggi disaat musim hujan daripada musim kemarau





Produksi ayam lebih besar dimusim hujan daripada musim kemarau





Penyakit ayam lebih banyak dimusim hujan daripada musim kemarau





Bentuk bangunan kandang tidak menjadi tolak ukur dalam keberhasilan peternakan broiler





Suhu sangat berpengaruh terhadap produksi dan tingkat kematian broiler





Manajemen pemeliharaan merupakan hal yang berpengaruh terhadap produksi dan tingkat kematian broiler





Suhu dan manajemen pemeliharaan tidak begitu berpengaruh terhadap produksi dan tingkat kematian broiler








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar